Samarinda Luncurkan RELASI Ruang Literasi Ramah Disabilitas yang Jadi Tolok Ukur Inklusivitas Nasional
Samarinda – Kota Samarinda kembali menorehkan sejarah dalam upaya mewujudkan kesetaraan akses literasi dengan meluncurkan Ruang Literasi Ramah Disabilitas (RELASI), sebuah terobosan inklusif yang didanai melalui Anggaran Perubahan 2025. Program yang diresmikan pada Kamis (17/7/2025) ini tidak hanya menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam membangun layanan publik berbasis keadilan sosial, tetapi juga menegaskan peran literasi sebagai hak dasar bagi semua kalangan, termasuk penyandang dana.
Inisiatif yang Lahir dari Kebutuhan Nyata
RELASI adalah buah pemikiran Dewi Astuti Anggreini, Kabid Pengolahan Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Samarinda, yang terinspirasi selama mengikuti pelatihan kepemimpinan nasional. Melihat minimnya akses literasi bagi difabel di Samarinda, Dewi menggagas ruang yang benar-benar bisa diakses oleh semua orang, termasuk tuna netra, tuna rungu, dan pengguna kursi roda.
“Ini bukan sekedar reformasi proyek bantuan, tapi bagian dari layanan yang harus berkelanjutan,” tegas Erham Yusuf, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Samarinda, dalam peluncuran RELASI di Gedung Perpustakaan Kota.
Dukungan Anggaran Perubahan 2025 untuk Fasilitas Lebih Baik

Baca Juga: Pengedar Narkotika di Samarinda Ditangkap, Sembunyikan Sabu 1,2 Kg dalam Mi Instan!
Pemerintah Kota Samarinda telah menyiapkan anggaran perubahan 2025 untuk memperkuat RELASI dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti:
-
Pagar besi dan blok pemandu untuk memandu penyandang tuna netra.
-
Jalur akses ramah kursi roda yang memenuhi standar aksesibilitas.
-
Buku audio dan buku braille bagi difabel netra.
-
Pelatihan bahasa isyarat bagi staf perpustakaan, bekerja sama dengan PT Erlangga dan PT RNB.
Meski begitu, Dewi Astuti mengakui bahwa fasilitas saat ini belum sempurna. “Kami akan terus meningkatkan sarana secara bertahap dengan melibatkan lebih banyak mitra,” ujarnya.
Dukungan dari Komunitas Disabilitas dan Harapan ke Depan
Rika Rahim, Ketua Persatuan Penyundang Disabilitas Indonesia (PPDI) Samarinda, menyambut gembira kehadiran RELASI. “Selama ini, akses literasi bagi difabel sangat terbatas. Keberadaan RELASI adalah langkah maju, namun kami ingin ada partisipasi ruang lebih besar bagi organisasi penyandang disabilitas dalam merancang program lanjutan,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depan, tidak hanya fasilitas fisik yang diperhatikan, tetapi juga program literasi yang benar-benar melibatkan penyandang disabilitas, seperti:
-
Kelas membaca braille dengan mentor dari komunitas tuna netra.
-
Diskusi inklusif dengan penerjemah bahasa isyarat.
-
Pelibatan difabel dalam pengadaan buku agar koleksi lebih relevan dengan kebutuhan mereka.
RELASI: Model Perpustakaan Inklusif yang Bisa Dicontoh
Samarinda berambisi menjadikan RELASI sebagai contoh nasional untuk perpustakaan inklusif. Dengan dukungan anggaran tahunan yang terus ditingkatkan, program ini diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, namun benar-benar menjadi ruang yang humanis, adil, dan memberdayakan.
“Kami ingin RELASI menjadi tempat di mana setiap orang, tanpa kecuali, bisa merasakan manfaat literasi,” pungkas Erham Yusuf.
Keberhasilan RELASI akan sangat bergantung pada:
-
Konsistensi anggaran dari Pemkot Samarinda.
-
Keterlibatan aktif komunitas disabilitas dalam program pengembangan.
-
Ekspansi ke daerah lain sebagai bentuk replikasi inovasi.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan dukungan masyarakat, Samarinda sedang menuju kota literasi yang benar-benar inklusif. RELASI bukan akhir, melainkan awal dari revolusi literasi tanpa batas.
















